Tampilkan postingan dengan label Cerita Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hati. Tampilkan semua postingan

Belum (Lagi-lagi)

Kali ini kupilih kata belum...
Bukan kata TIDAK...
aku tak mau berpikiran buruk pada NYA..

Yaa Tuhan..maaf jika sabar ini semakin terkikis detik demi detik.. Aku (lagi-lagi) berprasangka buruk padaMU, dan dia (seperti biasa) senantiasa berprasangka baik. Kami memang begitu berbeda.

Tuhan, sungguh aku heran dengan keputusan-keputusan yang terjadi. Dan jujur Tuhan, Engkau pasti Maha Tahu, jika aku kecewa. Sementara dia Tuhan,,dia baik-baik saja.. Tak sedikitpun raut kecewa kutangkap dari matanya.. Dia begitu ikhlas dengan segala keputusan-keputusan yang terjadi padanya. Sungguh teramat kukagumi itu dari dia.

Tuhan, apa yang kurang padanya? Apa yang menyebabkan dia belum Engkau bukakan jalan? Atau memang jalan untuknya ada di pulau seberang?

Tuhan...kuatkan Aku, karena aku yakin dia sudah sangat kuat dalam hidup ini. Air mata ini menjadi yang paling pertama mengacungkan tangannya untuk unjuk gigi.. Tak bisa kutahan Tuhan, Tak bisa kubendung, dia mengalir begitu saja.

Lagi-lagi Belum ada dua baris nama yang senantiasa kusebut, bahkan tak putus.. Di mana Engkau titipkan izinMU itu untuknya Tuhan? Aku sudah tak sabar ingin segera tau.. Tapi, jika itu masih rahasiaMU, aku mengikut saja wahai Engkau Yang Maha Menguasai...

Ini masih "belum" kan Tuhan, bukan "Tidak", karena aku yakin, Engkau Mencintainya dan akan memberi yang terbaik untuknya...
dan aku hanya bisa berdoa dan berucap "amin" di setiap akhir doa ku...

Anugerah Hebat dari Tuhanku Yang Maha Hebat!!!


Entah aku harus memulai tulisan ini dari mana.. sebab akupun sebenarnya lupa di mana kau pertama kali ku sapa..

Sekarang, malam ini, aku tidak tau harus berkata apa-apa lagi.. Rumah ini kita bangun di atas sebuah keberanian yang sangat. Di atas sebuah kekaburan yang pekat, namun di atas sebuah Nama yang Maha Hebat.

Aku, tidak pernah ada dalam pikiranku jika ternyata dia adalah kau. Orang yang akan mengucapkan kalimat itu adalah kau. Tidak, tidak sama sekali. Semua di luar jangkauan nalarku.. Semua jauh dari kuasa ku.. Kau, datang tiba-tiba dalam hidupku. Sedikit cerita yang baru aku tuliskan tentangmu, tapi kau datang membawa janji atas NamaNYA padaku. Aku terdiam, terkesima dengan segala berani mu.. Aku dan seluruh tubuhku tergetar saat kalimat itu kau ucap.

"Aku mencintaimu karena Allah SWT..."

Tidak banyak, hanya kalimat itu, hanya lima kata itu.. Dan itu, adalah kalimat terindah yang berhasil membuatku tak bisa berkata-kata. Aku bergetar. Aku terpaku. Aku bahagia. Aku,, Aku tidak tahu harus berekspresi apa.

Kau, dengan sangat jujur mengakui jika tak punya gambaran apa-apa tentangku.. Lalu, kenapa kau begitu berani mengucapkan kalimat itu padaku?? Aku sangat heran dengan keputusan mu itu.. Tapi, aku sangat berterima kasih atas keberanian mu itu. Kau, adalah sebuah anugerah yg sangat hebat dari Tuhanku Yang Maha Hebat!!!

Setetes air mata meminta izin padaku untuk mengorbankan dirinya jatuh menetes di pipiku. Aku mengizinkannya, dengan senang hati aku mengizinkannya. Itu air mata syukurku. Sangat bersyukur karena Tuhan menganugerahkan dirimu untukku.

Aku hanya bisa berdoa, semoga ini adalah akhir penantian itu. Ini adalah ujung dari mimpi-mimpi itu. Dan ini adalah labuhan terakhir dari rasa cinta ini. Amiin Ya Rabb...

Aku berada pada suatu kesyukuran yang tidak bisa lagi kugambarkan dengan apapun.. kesyukuran yang hanya bisa kuucapkan dengan lafaz : Alhamdulillah... sebuah kata yang hebat untuk dirimu, anugerah yang sangat hebat,, dan pastinya untuk Tuhanku Yang Maha Hebat.


Pohon Cinta

Aku kira aku tidak akan apa-apa ketika tau jika semuanya memang tidak mungkin... ternyata aku salah.. bagaimana bisa aku dgn sangat percaya diri mengaku bisa memahami hatimu??!!.sementara aku sendiri bahkan tak bisa memahami hatiku sendiri..

Sejak awal harusnya aku sadar, jika kau yang selama ini hanya kukunjungi dari balik layar adalah sesuatu yang tidak akan mungkin bisa kusentuh.. kita memang sudah terbatasi sejak awal. Dan kesalahan terbesar ku adalah : aku menanamkan benih cinta itu dan sangat rajin menyiraminya, sehingga ia tumbuh besar menjadi sebuah pohon rindang yang berakar kuat.

Aaah,, aku lagi-lagi hanya bisa berdiri sendiri di bawah pohon itu. hanya bisa sekadar berteduh dan menangis sendiri (mungkin), sebab pohon itu tidak berbuah sama sekali,, tidak ada buah yang bisa kunikmati.. hanya guguran daun satu-persatu yang menimpa wajahku..

Entah sampai kapan pohon itu akan bertahan.. akupun masih bingung, apakah akan terus merawat dan menyiraminya atau kutinggalkan saja dia di tengah-tengah kekeringan.. agar secepatnya Ia mati.. agar secepatnya rasaku juga pergi..

Lagi-lagi entah.. apakah suatu hari jika kau sedang berjalan-jalan, kau akan menemui pohon itu atau tidak. Tapi, sekalipun kau bertemu pohon itu, kau pasti tak akan mengenalinya.. Sengaja tak kuukir namamu di sana. Sebab aku tak ingin kau melihat pohon itu sudah dalam kondisi kering dan tak lama lagi mati. Aku juga tak mau merusak bahagia di antara kau dan dia, yang suatu saat akan terus berjalan di sampingmu, dan jika kebetulan dia melihat pohon itu. Bisakah kau bayangkan bagaimana cemburunya dia?

Aku tau rasanya cemburu, karena itu aku tak mau ada orang yang merasakan sakit seperti itu juga..

Maaf karena aku pernah membesarkan pohon cinta ini...

"Sarang Hae Myeon Andwe ni??"

Hujan, ruangan kaca, dan kesepian.



di luar hujan...
hujan membawaku melamun ke dalam rimba tempat kau selalu bersyukur..tempat di mana kau bilang bahwa rimba untukmu adalah tempat untuk mengejar hidup.. apakah hujan juga di sana? aku hanya bisa menerka-nerka di balik jendela kaca yang ada, sambil menikmati tetesan hujan yang begitu merayu untuk diperhatikan.

kita jauh, berada di jarak yang tak mungkin untuk aku pendekkan, juga berada di zona waktu yang tak mungkin aku satukan. aku hanya bisa mengintipmu di balik majunya teknologi, di tengah-tengah maraknya media-media pengumbar privasi. kau kusapa sebagai pagiku, sebab aku melihatmu pertama kali saat pagi menyapaku.. sejak saat itu aku tau jika pagi itu ternyata indah..

kau memperkenalkan padaku akan mentari yang terbit begitu indah di tengah rimbunnya pohon tempatmu berdiri, kau bercerita padaku tentang indahnya menatap senja keemasan di bawah ranting-ranting pohon yang menyambut bagai tangan-tangan malaikat mengambang di udara. Dan tak lupa kau curhat tentang malammu yang selalu indah ditemani bintang-bintang dan suara penghuni-penghuni malam yang tak lagi membuat malam sunyi. Kau begitu hebat karena kau bisa memiliki malam, kau bisa berkompromi dengannya..

selalu kau cumbui malam mu dengan sebatang rokok dan segelas kopi yang akan membuatmu bertahan sampai kau bisa menyambut pagi.. kau hebat! penganut poligami yang jago! setelah semalaman kau bersama malam, kau juga tak pernah lupa untuk menjenguk pagimu, kau tak pernah lupa memujinya juga.. kau sungguh adil..sedang aku,, aku tak lagi bisa berbuat adil.. sebab aku sungguh telah memihak pada pagi sekarang..

Aku terpenjara dalam sepinya ruang kaca saat aku coba untuk bercerita tentang mu.. sepi ditinggal setiap orang yang sibuk mengejar hidupnya dan sedih ditinggal orang yang tengah sibuk beramal. dan aku, seharian akan terus menatap layar ini, yang mutlak akan menambah tingkat minus mataku..
Di ruang kaca ini aku bisa melihat berbagai aktivitas orang di sekelilingku, tapi hampir seragam semuanya, orang-orang di sini hanya duduk menatap layar kotak yang menyala dan berwarna-warni. tidak jauh berbeda sepertiku...

tidak menarik, lebih menarik untuk mengkhayalkan sedang apa kau sekarang dalam rimba kesanyanganmu? apakah kini kau tengah tertidur di bawah belaian dedaunan dan semilir angin? atau kau tengah bercengkrama dengan pohon-pohon yang setegas dirimu? eh, tiba-tiba ada satu pertanyaan yang terlintas dalam kepalaku : "kapan kau pulang??" bisakah kita dipertemukan lagi dalam suasana yang lebih kekeluargaan seperti katamu dulu, saat aku mencueki mu akibat mata ku sedang angkuh dan tak mengenalimu?
"kapan kau pulang?"
menjadi pertanyaan besar bagiku dan bagi seseorang yang juga mungkin menunggumu..

aku bercerita tentang kau dan semua tentang mu ini bukan karena harapanku akan kau yang semakin besar, aku hanya ingin,, hanya sekedar ingin.. dan jika kau tak ingin akan adaku,, itupun tak apa-apa buatku.. sebab aku hanya ingin bercerita..
saat kau pulang nanti dan menemukan tulisan ini, mungkin kau akan tersenyum-senyum atau bahkan tertawa sangat besar. sebab ternyata ada orang yang pernah menulis ini dan menjadi pengecut sebab dia hanya bisa menuliskan cerita tentangmu dari balik sebuah ruangan kaca dan saat dia tengah dilanda kesepian.

hahaha,, akupun lagi-lagi ingin tertawa melihat tulisan ini.. (akhir-akhir ini aku memang sangat sering tertawa sendiri ketika melihat barisan anak-anak kataku yang mencoba tampil di hadapan publik dengan segala amburadulnya.

Hujan, Ruangan Kaca, dan Kesepian ini membawaku pada keadaan di mana aku sangat ingin bercerita tentang kau,, tentang pagi ku.. yah, inilah hasil kolaborasi antara cuaca hujan, kurungan ruangan kaca, dan jebakan kesepian...

Bersabar untuk Cinta



aku jatuh cinta pada pagi! itu yang harus kutegaskan!

lalu kenapa malam datang lagi untuk mengingatkan ku pada posisiku dulu??
dulu aku memang adalah bintang bagi langit..
tapi semua sudah berubah..aku tak mampu berpegang pada langit yang begitu perkasa..

Langit kini sudah punya awan yang dia cintai,
lalu kenapa aku harus diikutkan lagi dalam cerita hidupnya??
aku memang tak punya siapa-siapa sekarang!
aku tak mampu menggenggam air yang sempat menyejukkkan ku,, aku pun tak mampu merayu pagi yang kini tengah coba untuk kucintai!

apa makna semua ini? ingin membuatku iri???
sudahlah,, aku menyerah pada keadaan ini.. aku mungkin sudah sampai pada puncak kesabaranku.. kalian mungkin bisa melihat aku hanya tersenyum ketika kalian berbisik dan bersenang-senang di atas masa laluku bersama langit... tapi taukah kau di dalam hatiku seperti apa??

aku tidak akan bisa memarahi kalian... tidak akan bisa! aku pun tidak mau marah pada kalian,, sebab aku hanya akan membuang waktu dan tenagaku untuk mengerutkan alisku dan untuk membesarkan suaraku.. tidak,, aku tidak mau melakukan itu!!
aku masih menaruh jutaan hormat pada kalian semua.. jutaan rasa hormat.. jadi kumohon hormati rasa ku kini...

seorang teman berkata : "semuanya biasa-biasa saja saat kau datang kembali di hadapanku,, itu karena kau terlalu lama mendiamkanku"
ingin aku berkata seperti itu tapi aku terlalu baik.. aku tak mampu membuat rasa benci ku mengalahkan rasa cintaku!!

saat langit hitam mencoba mengingatkan ku tentang masa laluku,,
jujur,, semuanya biasa saja..
lain cerita saat malam mengungkapkan segala masa lalu itu dihadapan sang pagi...
belum sempat aku mengutarakan rasaku pda pagi,, aku harus mundur lagi karena masa lalu..
aku lelah,, aku terpenjara!!

sementara itu,, pagi ternyata harus memilih secepat mungkin..
namun,, aku sama sekali tak ada dalam daftar pilihannya..
hah... aku harus bersabar lagi rupanya..
bersabar sampai batas waktu yang aku sendiri tidak tau kapan..

Rimba Kalimat Tak Berpenghuni


Jam dinding berdetak-detak merayu setiap orang yang tak jua terlelap utnutk segera bertemu mimpi.. aku masih dihadapan layar 12' inci sedang mencoba membunuh segala budaya akan malam. aku menggulirkan setiap isi kepalaku pada sebuah kata-kata yang ingin coba kurangkai malam ini..

aku ingin coba berdamai dengan malam yang selalu kutolak.. masih dengan rasa cinta yang kusimpan untuk pagi, kucoba selingkuh dengan malam.. kucoba menguping setiap bisikan jangkrik yang bergosip, kucoba mencuri dengar pembicaraan nyamuk yang tengah terbang bercengkrama dengan gerombolannya.. dan kucoba memahami gerak bibir dari burung2 gagak yang membicarakan tentang takdir siapa kali ini..

Aku tak bisa terlelap malam ini..
entah memikirkan apa ataupun siapa, terlalu banyak asumsi yang bermain..
kucoba menguji Cinta akan kesabaranku menantinya.. di tengah-tengah indahnya setengah bulan yang menghias langit berawan... dan aku sedang bergurau lagi dengan khayalanku yang tak kunjung serius..

ingin rasanya tertawa besar melihat tulisan ini..
berlari dari ujung kanan ke ujung kiri, tanpa memberikan tongkat estafet sama sekali..tulisan ini begitu linglung di malam rabu yang berawan.. ada banyak cerita terparkir di halaman otakku, entah siapa yang akan kuberangkatkan lebih dulu menuju terminal cerita atau bandara puisi yang menjadi transportasi andalanku..

betul-betul linglung tulisan ini!
bisakah orang menangkap maksud dan tujuan ku? atau malah akan dapat cemoohan dan tawa sinis dari orang-orang jago! hahaha,, lagi-lagi ingin tertawa melihat tulisan ini.. sangat jauh menyimpang dari yang biasanya.. aku tak melalui jalan poros,, tapi mencoba menembus hutan pemikiranku yang layaknya sebuah labirin tanpa ujung.
ku masuki setiap lorong, ku intip setiap ruang, kalau-kalau ada yang bisa ku ajak bercerita atau kuceritakan sebuah cerita..

aku jadi sangat suka bercerita akhir-akhir ini. tentang apa saja, tapi kusangat ingin bercerita tentang dia.. dia yang belum ku kenal.. hah! mulai ngawur saya! sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan,, sampai aku tak tahu harus keluar lewat mana.. terlalu banyak pohon yang tampak sama, dan terlalu banyak jalan setapak yang tampak mirip..

belok kiri atau berbalik ke kanan? entah,, memang betul-betul sedang linglung aku di dalam hutan kata-kata ini.. berdiri di tengah rimba kalimat tak berpenghuni, di antara jejeran pepohonan tinggi menjulang berbuahkan huruf-huruf aku mencoba mencari pemandu jalan.. apakah ada di sana yang bisa memandu jalanku dengan benar??

Kau Adalah Ego mu


ketika aku terjatuh dalam asumsi ku sendiri, di mana kau kala itu?? ketika aku akhirnya mengumpulkan kesimpulan sendri,, berdiri di bagian mana kau dari hatiku?? aku tau kau melihatku sedang berlari sendiri sana sini.. aku tau kau mengamatiku saat aku sedang linglung dan sedikit lagi pingsan.. tapi kenapa kau tak menghampiri?? saat aku kini memasang keputusan dalam kepalaku,, di mana lagi kau akan berdiam diri ???
sementara kau, kau pun merana tak tau arah.. menggelindingkan setiap gelisahmu di tanah-tanah hitam yang kau pijak.. apa tak juga kau mengajak akalmu untuk bernegosiasi?
kau hanya terus berjalan bersama egomu,, menyusuri jalan-jalan keangkuhan, menanam benih-benih kebencian akan aku, sehingga tumbuh menjalar parasit-parasit linglung di tembok hatimu..
aku begitu ingin berkata lelah akan penantian ini. mencoba berlari dari dunia di mana ada kau adalah pilihanku dulu.. tak bisakah sejenak mereka tak berbisik tentang kita??
kau sudah jauh di depan sana, meninggalkan ku dibelakangmu bermain-main dengan kerikil yang kau lemparkan satu-satu ke arahku..
pergi saja kau dengan segala angkuhmu.. bawa setiap amarahmu bersamamu,, ajak juga egomu untuk menggendongmu, sebab kau tak pernah bisa mandiri tanpanya..

asal kau tahu, akalmu mungkin merindukanmu menemuinya,,
rindu akan diskusi-diskusi rasional yang dulu pernah kalian lakukan..
ditemani segelas teh hangat dipagi hari memandangi berbagai isyarat alam yang tampak.

ah,, sudahlah.. sia-sia saja aku terus mengingatkan mu,, kau adalah egomu, bukan akalmu.
kau selalu bilang jika aku ini adalah hatiku,, lebih baik jika aku hatiku daripada aku adalah egoku!!